Recent Post
ISO 17025:2017 (Sistem Manajemen Laboratorium Pengujian & Kalibrasi)
Konsultan SQF Indonesia untuk Implementasi dan Sertifikasi SQF
Keamanan dan mutu pangan menjadi salah satu persyaratan penting dalam rantai pasok industri makanan, baik untuk memenuhi ketentuan regulasi maupun persyaratan pelanggan. Bagi perusahaan yang ingin memperluas pasar dan memenuhi persyaratan buyer internasional, penerapan standar keamanan pangan yang diakui secara global dapat menjadi salah satu langkah strategis.
Salah satu standar yang banyak digunakan oleh perusahaan dalam industri pangan adalah SQF (Safe Quality Food). SQF merupakan program sertifikasi keamanan dan mutu pangan yang dikembangkan oleh Safe Quality Food Institute (SQFI) dan diakui oleh Global Food Safety Initiative (GFSI). Program SQF dirancang untuk membantu perusahaan mengelola keamanan pangan dan mutu secara sistematis berdasarkan pendekatan berbasis risiko dan prinsip HACCP.
Dalam proses penerapan SQF, perusahaan sering membutuhkan pendampingan dari konsultan SQF agar persiapan sistem dapat dilakukan secara lebih terarah, sesuai dengan karakteristik proses perusahaan, dan siap menghadapi proses audit sertifikasi.
Apa Itu SQF?
SQF atau Safe Quality Food adalah program sertifikasi keamanan dan mutu pangan yang berlaku untuk berbagai sektor dalam rantai pasok pangan. SQF memiliki berbagai kode yang disesuaikan dengan jenis kegiatan dan produk perusahaan, mulai dari produksi primer, pengolahan pangan, penyimpanan dan distribusi, hingga kemasan untuk sektor pangan.
SQF menggunakan pendekatan berbasis HACCP untuk membantu perusahaan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya keamanan pangan yang dapat terjadi dalam proses produksi maupun rantai pasok.
Dengan menerapkan SQF Food Safety Management System, perusahaan dapat menunjukkan kepada pelanggan dan buyer bahwa sistem keamanan pangan telah dikelola secara sistematis dan dapat diverifikasi melalui proses audit sertifikasi.
SQF juga merupakan salah satu program yang diakui dalam kerangka GFSI, sehingga sertifikasi SQF dapat menjadi salah satu persyaratan yang relevan bagi perusahaan yang ingin memasuki atau mempertahankan akses ke pasar tertentu dan rantai pasok internasional.
Mengapa Perusahaan Membutuhkan Sertifikasi SQF?
Bagi perusahaan pangan, penerapan SQF bukan hanya berkaitan dengan memperoleh sertifikat. Sistem SQF membantu perusahaan membangun pengendalian keamanan pangan yang lebih terstruktur dan terdokumentasi.
Beberapa manfaat penerapan SQF antara lain:
- Meningkatkan pengendalian keamanan pangan
Perusahaan dapat mengidentifikasi dan mengendalikan potensi bahaya keamanan pangan secara sistematis. - Memenuhi persyaratan pelanggan dan buyer
Banyak buyer dan perusahaan global memiliki persyaratan keamanan pangan tertentu bagi pemasoknya. SQF dapat membantu perusahaan memenuhi kebutuhan tersebut. - Meningkatkan kepercayaan pelanggan
Sertifikasi pihak ketiga memberikan bukti bahwa sistem keamanan pangan perusahaan telah melalui proses audit independen. - Meningkatkan konsistensi proses
Persyaratan SQF mendorong perusahaan untuk memiliki proses, prosedur, monitoring, verifikasi, dan rekaman yang konsisten. - Mendukung akses ke pasar global
SQF merupakan program yang diakui secara internasional dan digunakan oleh perusahaan dalam berbagai sektor rantai pasok pangan. SQFI saat ini mencatat lebih dari 14.000 site tersertifikasi di lebih dari 40 negara.
SQF Edition 10
SQFI telah merilis SQF Food Safety Code Edition 10 pada Maret 2026. Edisi terbaru ini membawa sejumlah pengembangan dalam sistem SQF, termasuk peningkatan perhatian terhadap food safety culture, change management, environmental monitoring, serta pendekatan penilaian dan scoring yang diperbarui.
Namun, perusahaan yang sedang mempersiapkan sertifikasi atau melakukan migrasi perlu memperhatikan status penerapan Edition 10. Berdasarkan informasi SQFI, Edition 10 sedang melalui proses benchmarking GFSI dan tanggal efektifnya tidak akan lebih awal dari 1 Januari 2027.
Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada penyusunan dokumen, tetapi juga memahami bagaimana persyaratan SQF diterapkan secara nyata dalam aktivitas operasional.
Apa Saja yang Dipersiapkan untuk Implementasi SQF?
Implementasi SQF perlu disesuaikan dengan jenis industri, produk, proses, dan ruang lingkup sertifikasi perusahaan. SQFI menyediakan Code Selector untuk membantu menentukan Food Sector Category dan kode yang sesuai dengan aktivitas perusahaan.
Secara umum, persiapan implementasi SQF dapat mencakup:
1. Penentuan Ruang Lingkup dan Kode SQF
Tahap pertama adalah menentukan jenis produk, proses, dan aktivitas perusahaan untuk memastikan kode SQF yang digunakan sesuai dengan ruang lingkup bisnis.
Pemilihan kode yang tepat penting karena persyaratan SQF bersifat spesifik terhadap produk dan sektor industri.
2. Gap Assessment
Gap assessment SQF dilakukan untuk mengetahui kesenjangan antara kondisi perusahaan saat ini dengan persyaratan SQF yang berlaku.
Assessment dapat mencakup aspek:
- Sistem manajemen keamanan pangan
- HACCP dan food safety plan
- Good Manufacturing Practices
- Sanitation dan hygiene
- Pengendalian bahan baku
- Pengendalian proses produksi
- Traceability
- Allergen management
- Food defense
- Food fraud
- Pengendalian supplier
- Pengendalian produk tidak sesuai
- Corrective action
- Internal audit
- Management review
- Food safety culture
Hasil gap assessment kemudian dapat digunakan sebagai dasar penyusunan action plan implementasi SQF.
3. Training dan Awareness SQF
Pemahaman terhadap persyaratan SQF perlu diberikan kepada personel yang memiliki tanggung jawab dalam penerapan sistem keamanan pangan.
Pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, misalnya:
- SQF Awareness
- HACCP
- Food Safety Team
- Internal Auditor
- Food Defense
- Food Fraud
- Traceability
- Food Safety Culture
- Persyaratan SQF sesuai fungsi/departemen
4. Penyusunan dan Review Dokumen
Dokumen SQF perlu dikembangkan berdasarkan proses aktual perusahaan, bukan sekadar membuat dokumen untuk memenuhi checklist audit.
Dokumen dapat mencakup kebijakan, prosedur, food safety plan, HACCP plan, program prerequisite, instruksi kerja, formulir monitoring, hingga rekaman sebagai bukti implementasi.
Prinsip penting dalam tahap ini adalah memastikan bahwa dokumen sesuai dengan praktik operasional perusahaan.
5. Implementasi Sistem SQF
Setelah dokumen tersedia, tahap berikutnya adalah implementasi.
Pada tahap ini perusahaan mulai menjalankan sistem yang telah ditetapkan, termasuk melakukan monitoring, verifikasi, pencatatan, corrective action, traceability exercise, pengendalian sanitasi, evaluasi supplier, serta aktivitas lain sesuai ruang lingkup sistem.
Implementasi merupakan tahap penting karena audit sertifikasi tidak hanya menilai keberadaan dokumen, tetapi juga penerapan sistem di lapangan.
6. Internal Audit SQF
Internal audit dilakukan untuk mengevaluasi apakah sistem SQF telah diterapkan secara efektif dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Internal audit juga dapat menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk menemukan potensi ketidaksesuaian sebelum menghadapi audit sertifikasi.
7. Management Review
Hasil penerapan sistem kemudian ditinjau oleh manajemen untuk mengevaluasi efektivitas sistem keamanan pangan, pencapaian sasaran, hasil audit, keluhan pelanggan, insiden keamanan pangan, corrective action, serta peluang perbaikan.
8. Persiapan Audit Sertifikasi SQF
Tahap akhir adalah mempersiapkan perusahaan menghadapi audit sertifikasi.
Menurut SQFI, proses sertifikasi secara umum meliputi memahami Code, melakukan registrasi, mempersiapkan audit, melaksanakan audit, dan mempertahankan atau memperbarui sertifikasi. Audit sertifikasi dilakukan oleh certification body yang dilisensikan oleh SQFI.
Bagaimana Peran Konsultan SQF?
Konsultan SQF berperan membantu perusahaan memahami persyaratan, mengidentifikasi gap, membangun sistem, serta mempersiapkan organisasi agar mampu menerapkan SQF secara efektif.
Pendampingan konsultan dapat disesuaikan dengan tingkat kesiapan perusahaan.
Perusahaan yang sudah memiliki sistem seperti ISO 22000, FSSC 22000, HACCP, GMP, BRCGS, atau sistem keamanan pangan lainnya dapat melakukan pendekatan integrasi atau gap assessment terlebih dahulu.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak selalu harus membangun sistem dari awal. Dokumen dan sistem yang sudah tersedia dapat direview dan dikembangkan agar memenuhi persyaratan SQF yang relevan.
Konsultan SQF Indonesia – Lazuli Consulting
Lazuli Consulting menyediakan layanan konsultasi dan pendampingan sistem manajemen, termasuk pendampingan implementasi SQF (Safe Quality Food) untuk perusahaan di industri pangan dan rantai pasoknya.
Pendampingan SQF dapat dimulai dari gap assessment, training awareness, pengembangan dan review dokumen, implementasi, internal audit, hingga persiapan audit sertifikasi.
Kami memahami bahwa setiap perusahaan memiliki proses, produk, fasilitas, sumber daya, dan tingkat kesiapan yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan konsultasi SQF disusun berdasarkan kondisi aktual perusahaan agar sistem yang dikembangkan dapat diterapkan secara efektif dan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan dokumen.
Jika perusahaan Anda sedang mempersiapkan sertifikasi SQF, melakukan migrasi ke SQF Edition 10, memenuhi persyaratan buyer, atau ingin memperkuat sistem keamanan pangan, Lazuli Consulting dapat membantu melakukan assessment dan menyusun tahapan implementasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Hubungi Lazuli Consulting untuk mendiskusikan kebutuhan konsultasi dan pendampingan SQF perusahaan Anda.
Website: www.lazuli-consulting.com